Mental 064902Tingginya keterlibatan pemuda Indonesia dalam berbagai permasalahan kriminalitas, tawuran, seks bebas (HIV-AIDS), radikalisme dan pengangguran, bahkan BNN menyatakan 4juta orang menjadi penyalahguna narkoba dan akan terus meningkat jika tidak dilakukan langkah-langkah antisipatif. Sarasehan dalam rangkaian peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-87 Tahun 2015 mengambil topik “Mewujudkan Revolusi MentalPemuda Untuk Meningkatkan Patriotisme” yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Karangasem di Aula Diskominfo, Kamis (29/10). Sarasehan dibuka Kepala Dinas Kominfo Ir. Gde Ngurah Yudiantara, MM danmenghadirkan narasumber Wakil Ketua Pemuda Pancasila Kadek Purwantara, SE, yang diikuti Organisasi pemuda, perguruan tinggi, pelajar dan desa pakramandi Kota Amlapura.

Kadek Purwantara, SE menghimbau para pemuda agar turut aktif mengikuti organisasi-organisasi untuk membentuk perilaku positif, sesuai pengertianrevolusi mental sebagai gerakan mengubah cara pandang, pikiran, sikap, dan perilaku. “Dengan mengikuti keanggotan organisasi berarti kita sudah mulai melakukan revolusi mental pada diri sendiri” ujar Purwantara.

Lebih lanjut Purwantara mengatakan potensi yang dimiliki pemuda sebagai agen perubahan diharapkan mampu mengatasi tiga pokok permasalahan bangsa yakni merosotnya wibawa bangsa, lemahnya sendi perekonomian bangsa, serta intoleransi dan krisis keribadian bangsa.

Purwantara menambahkan gagasan revolusi mental tidak bisa dipisahkan dari Presiden Soekarno sebagai pencetus dan pengonsep gagasan yang mulai dikumandangkan pada tahun 1957, dan dicetuskan kembali saat ini oleh Presiden Joko Widodo.

Dikatakan Purwantara, pola pikir revolusi mental jika dijelaskan dengan singkat yaitu suatu perombakan cara berpikir, cara kerja dan cara hidup yang diselaraskan dengan semangat kemajuan sehingga menghasilkan gerakan hidup baru yang dipraktekan dengan menjunjung nilai integritas, kerja keras dan gotong royong. Strategi internalisasi 3 nilai revolusi mentalini mulai dari birokrat, lembaga pendidikan, kelompok masyarakat, swasta,sampai keseluruh lapisan masyarakat, tambahnya.

Dari banyaknya peserta yang mengajukan pertanyaan maupun memberikan tanggapan, salah satunya Gusti Agus dari SMK 1 Amlapura bertanya salah satu strategi internalisasi nilai revolusi mental melalui jalur pendidikan adalah dengan memperkuat kurikulum dimana saat ini yang digunakan adalah kurikulum 2013 yang dirasakan sangat berat dan seringnya membuat mental siswa menjadi down, apakah dengan kondisi demikian kurikulum tersebut dapat dikatakan sebagai revolusi mental. Kadis Kominfo Ir. Gde Ngurah Yudiantara, MM menanggapi bahwa permasalahan yang timbul sebenarnya adalah kurangnya pengajar yang menguasai kurikulum tersebut sehingga belum menemukan teknik yang tepat dalam mengajarkan siswanya. Menurut Yudiantara, kurikulum 2013 sudah dibuat sedemikian rupa mengubah pola pendidikan sehingga menunjang keberhasilan siswa dalam mempersiapkan diri di kemajuan teknologi yang semakin pesat apalagi dalam menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi Asia (MEA). “Dibandingkan kurikulum lama yang lebih banyak menghafal teori dan mencatat, kurikulum 2013 yang lebih menekankan pada keterampilan dan memperkuat karaktermemiliki dampak yang lebih efektif” ujarnya.

Sarasehan ditutup dengan pemberian doorprize berupa tongsis, flashdisk dan powerbank kepada 4 peserta yang beruntung dan 5 orang peserta yang mengajukan pertanyaan dan tanggapan terbaik. (Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Karangasem)

Map

Sosial Media

Login