Perbedaan 500684Guna memelihara dan menumbuhkan kesadaran akan hakekat keragaman dan perbedaan bangsa Indonesia, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kab. Karangasem memanfaatkan sekolah untuk mensosialisasikan dan menanamkan pengertian membangun kerukunan antar umat beragama sebagai esensi perbedaan keragaman nusantara. Sekolah yang disasar adalah sekolah tingkat SMA se-Kabupaten Karangasem dengan menurunkan tim dari pengurus FKUB Karangasem dipimpin Ketua FKUB Drs. I Made Sudiarsa.

Sekretaris FKUB I Gede Redita, S.Sos mengatakan, 8 sekolah disasar mulai 24 Oktober lalu dengan materi utama Kerukunan Umat Beragama. Kedelapan sekolah tersebut antara lain SMA Parisada, SMKN 1 Abang, SMKN 1 Kubu, SMKN 1 Bebandem, SMKN 1 Selat, SMKN 1 Sidemen, SMKN 1 Manggis dan SMKN 1 Rendang. Tujuan menyasar siswa SMA adalah untuk memberikan pengetahuan khususnya perihal fenomena keberagaman dibidang agama yang membawa konsekuensi kerawanan memicu konflik. Maka dipandang penting memberikan informasi kepada generasi muda agar mampu memahami esensi perbedaan sebagai kekayaan peradaban berbangsa dan bernegara.

I Wayan Darna, S.Sos dari sisi kepemudaan, menegaskan, pentingnya pemuda memahami hakekat perbedaan beragama sebagai suatu kewajiban azasi bagi warga negara. Pengetahuan akan keragaman bangsa Indnesia yang demikian kaya harus dijadikan potensi membangun peradaban bangsa itu sendiri, bukan disikapi secara sempit karena perbedaan sudut pandang dancara. Ia mengajak pemuda tampil sebagai generasi smart menyikapi fenomena sosial tidak justru terlarut dengan media sosial yang penuh dengan kebebasan berpendapat.

M. Mursyid dari perwakilan MUI mengapresiasi atensi siswa-siswi SMAN I Bebandem terhadap kegiatan sosialisasi FKUB, bahkan tercatat yang paling aktif dan mampu mengangkat pertanyaan yang cukup berkualitas. Dikatakan, masalah kerukunan beragama tidak gampang dibangun seperti pembangunan fisik dan tidak dapat dihitung secara eksak, namun harus dimulai dari koordinasi mantap dan berkelanjutan karena kerukunan itu akan selalu berubah-ubah, dari rukun berubah menjadi tidak rukun, karenanya kerukunan itu harus dibangun terusmenerus. Sosialisasi yang diselenggarakan FKUB sangat tepat sehingga hasilnya dapat diketok tularkan kepada generasi muda dan dapat diwujudkan. Kendati di Karangasem belum pernah terjadi masalah disharmoni masalah kerukunan, namun bukan berarti bebas dari inidikasi kearah menciderai hubungan antar agama.

Ketua FKUB Drs. I Made Sudiarsa, FKUB harus senantiasa menjadi garda terdepan menjaga misi kerukuan umat beragama dalam menjaga 4 pilar yakni Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Dikatakan, kerukunan itu disatu pihak didambakan semua kalangan, namun di lain pihak kerukunan itu sifatnya dinamis dan selalu berubah, sebagai akibat arus globalisasi yang berpengaruh pada kehidupan baik positif maupun negatif. Perkembangan iptek membuat pergaulan makin tanpa batas, sehingga norma kehidupan makin tergeser dengan percepatan media komunikasi. Sudiarsa, mengajak untuk membangkitkan kearifan lokal sebagaimana yang ada didalam Kitab Suci yakni Vasudaiva Kutumbakam, semua yang beriman adalah bersaudara atau konsep menyama braya, serta selalu diingatkan dengan konsep rekonsiliasi. Kearifan lokal merupakan aset budaya Bali sebagai khasanah kekayaan budaya didukung nilai spiritual keagamaan yang tumbuh mekar bersama keanekaragaman agama maupun menunjukkan jati diri masyarakat Bali yang saling menghargai, melengkapi dan menjaga keharmonisan yang dipayungi kearifan lokal. Nilai kearifan lokal merupakan nilai kemanusiaan universal yang turut membangun peradaban dunia, sementara dunia mengakui bahwa Bali mampu melestarikan budaya sebagai warisan budaya dunia bahkan sebagai tujuan wisata dunia.

Dikatakan, sebagai lembaga kerukunan umat, tantangan yang dihadapi tidaklah mudah selain diakibatkan keragaman persepsi dan perilaku umat, juga desakan faktor eksternal yang kerap kali memicu timbulnya gesekan antara elemen umat beragama yang dapat memantik peristiwa berbau SARA. Untuk itu keberadaan FKUB sangat strategis untuk mengurangi dampak riak-riak disharmonisasi dalam konteks kehidupan berbangsa bernegara. Kendati sejauh ini di Kabupaten Karangasem belum pernah terjadi pertikaian berbau SARA, menyusul perkembangan secara nasional maupun regional relatif dinamis dan cenderung mengarah pada segi teroris dan anarkis maka FKUB dipandang efektif dapat mengeleminir akses negatif tersebut agar tidak sampai memicu adanya peristiwa lebih jauh. Didalam infrastruktur kelembagaan hendaknya tidak lagi dikenal adanya asumsi mayoritas maupun minoritas, tetapi lebih mendekatkan persatuan atas dasar kebenaran dan cinta kasih, sehingga keharmonisan dalam kehidupan berbangsa bernegara dapat terwujud setiap saat.

Arsiawan Adi pengarang 4 seri Buku tentang tersenyum yang menjadi best seller menambahkan, senyum adalah obat ampuh untuk menghadapi rasa emosional, gundah gulana dan amarah karena senyum memiliki kekuatan spirit kejiwaan yang mampu melumerkan perasaan emosional dan marah itu sendiri. Dikatakan, kebebasan memeluk agama disatu sisi merupakan kebebasan hak azasi manusia tidak dapat dikurangi dalam kondisi apapun, setiap orang bebas memilih agama dan beribadah mesti dijamin oleh negara. Pemerintah wajib menjamin melindungi setiap usaha penduduk melaksanakan ajaran agama dan ibadah pemeluknya agar berlangsung rukun, lancar dan tertib serta selalu harmoni. Menodai salah satu agama berarti mengganggu ketertiban dan ketenteraman kendati hanya sekedar isu belaka. Masalah seperti itu harus dapat disikapi secara arif dan bijaksana karena jika keliru menyikapi bisa mendatangkan dampak yang kurang baik. Untuk itu diperlukan upaya pemerintah dalam membina umat beragama dilandasi saling pengertian, menghormati menghargai kesetaraan dan pengalaman ajaran agama.

Sosialisasi diakhiri dengan Tanya jawab dari 4 siswa siswi SMA 1 Bebandem yang mengangkat tema pertanyaan seputar masalah kerukuan umat beragama, Tri Kerukunan Umat Beragama, kesiapan pemerintah menghadapi berbagai perbedaan yang ada dsb.(Diskominfo Kab. Karangsem)

Map

Sosial Media

Login